KETAKUTAN ITU HALUSINASI
Karya : Mohamad Haris Khunaifi
Maghrib telah usai, matahari pun berganti menjadi bulan.
Aku dan keluargaku menonton film horror di televisi. Tak lama
kemudian adikku, dipanggil oleh teman-temannya untuk mengerjakan tugas kelompok. Beberapa menit kemudian
film tersebut telah usai.
Burung kematian bersuara,
melantunkan suara yang menyeramkan. Waktu itu kedua orang tuaku akan bersilaturrahmi keteman sekolahnya waktu dulu.
Ibuku berkata “Nef, kamudirumahsaja, jagarumahnya”. “ibumaukemana?” sahutku,
Unef. Ibukumenjawab “Ibumaupergiketemanibuduludanteman ayah”. “ya bu, jangan
lama-lama ya…”Aku menjawab.
Suasana tiba-tiba hening,
ketika aku sendirian dirumah.
Beberapa lama
kemudian, suasana dirumah menjadi lebih menyeramkan, badanku merinding,
bulu kudukku berdiri, waktu itu aku berfikir didalam hatiku “bagaimana kalau nanti aku di
gentayangin hantu yang tadi aku tonton di televisi?”aku semakin
takut.
Jadi aku pastikan dengan menonton televisi dengan suara keras.
Tiba-tiba aku mendengar suara pintu terbuka dan tertutup.
Aku semakin merinding lalu aku melihat pintu itu dengan perasaan takut, dan ternyata tidak ada siapa-siapa.
Dengan suara lantang aku berbicara “Siapa?” tak ada suara jawaban sedikit pun.
Hatiku semakin berdebar-debar kencang.
Suara tiba-tiba terdengar lagi,
yaitu suara mainan adikku jatuh. Aku pun berbicara dengan lantang lagi “Siapa?”.
Dengan memberanikan diri aku mengendap-endap kearah suara tersebut,
dan ternyata yang aku lihat seperti yang aku lihat tadi tidak ada siapa-siapapun,
hanya ada mainan yang jatuh. Aku mulai beranjak kembali ke tempat dudukku yang tadi, tiba-tiba kursinya bergerak-gerak sendiri.
Aku menangis ketakutan hingga aku membaca ayat kursi dan asma Allah.
Aku langsung segera kembali ke tempatku tadi,
sambil aku kembali, tiba-tiba… ”DOR…”. “Ya Allah, Ya Karim, YaAlim, YaMukmin, Gusti,
KanjengNabi Muhammad SAW” sahutku.
Aku sangat gemetar. Aku telah mengetahui siapakah pelaku dibalik dari pintu yang
terbuka dan tertutup sendiri, mainan adikku jatuh, serta kursi yang
bergerak sendiri dialah adikku, aku dengan segera memarahi adikku. “Adik,
kenapa kamu mengageti dan menakutiku?” adikku menjawab sambil tertawa “karena, kakak
takut hantu, jadi aku malah menakuti kakak”. “Kalau begitu jangan diulangi lagi”
sahutku dengan marah. “Baik nanti akan kuulangi lagi” adikku mengalihkan perkataanku,
“ADIK!” sahutku. “iya, baik, tidak” adikku berkata.
Kemudian aku dan adikku bercanda tawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar